Gunung Sahilan, Selasa (13/10/2026), pelitamedia.Com — Pagi yang cerah menyelimuti negeri Gunung Sahilan. Sinar matahari perlahan menerangi bumi yang menjadi tempat berlangsungnya Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-55 tingkat Kabupaten Kampar tahun 2026. Di tengah semarak perhelatan syiar Al-Qur’an tersebut, kesibukan panitia berpadu dengan keramahan masyarakat yang turut menjadi bagian dari suksesnya pelaksanaan kegiatan.
Sejak pagi, para panitia terlihat menjalankan tugas masing-masing. Ada yang memastikan kesiapan arena perlombaan, mengatur berbagai kebutuhan teknis, hingga memberikan pelayanan kepada peserta dan tamu yang hadir. Di balik kemeriahan sebuah perhelatan besar, selalu ada tangan-tangan yang bekerja dengan penuh tanggung jawab, bahkan terkadang tanpa banyak terlihat oleh orang lain.
Namun, MTQ bukan semata-mata tentang perlombaan, penampilan para qari dan qariah, ataupun siapa yang akan membawa pulang gelar juara. Lebih dari itu, MTQ juga menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan, membangun kebersamaan, dan menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap Al-Qur’an.
Di sela-sela kesibukan tersebut, ada pemandangan sederhana yang menghadirkan kehangatan tersendiri.
Kasi Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kementerian Agama Kabupaten Kampar yang juga bertindak sebagai koordinator pelaksanaan MTQ ke-55, H. Zulfaimar, S.Ag., M.A.P., memanfaatkan waktu luangnya untuk bercengkerama bersama sejumlah panitia dan masyarakat.
Tanpa suasana formal yang membatasi, Zulfaimar duduk bersama mereka di salah satu warung sarapan pagi milik warga. Segelas kopi dan hidangan khas pagi itu menjadi teman perbincangan yang mengalir santai. Sesekali terdengar canda, disusul gelak tawa yang membuat suasana semakin akrab.
Tak ada jarak yang terasa kaku. Percakapan berlangsung sederhana, mulai dari obrolan ringan seputar pelaksanaan MTQ hingga cerita keseharian masyarakat. Di tempat sederhana itu, kebersamaan justru menemukan maknanya yang paling dekat dengan kehidupan.
Bagi sebagian masyarakat, kehadiran seorang pejabat di tengah mereka, duduk bersama menikmati kopi, dan mendengarkan cerita tanpa sekat formalitas, menjadi pengalaman yang menyenangkan. Ada kebahagiaan ketika mereka merasa dihargai, bukan hanya sebagai warga yang menyaksikan sebuah kegiatan, tetapi juga sebagai bagian penting dari kehidupan bermasyarakat.
Sosok Zulfaimar yang dikenal bersahaja dan humoris turut menghidupkan suasana pagi tersebut. Canda yang dilontarkannya mengundang gelak tawa, mencairkan suasana, sekaligus menyempurnakan kehangatan perjumpaan di Gunung Sahilan.
Di tengah tanggung jawab besar mengoordinasikan pelaksanaan MTQ, momen sederhana itu seolah mengingatkan bahwa pengabdian tidak selalu harus ditunjukkan melalui rapat, arahan, atau kegiatan resmi. Terkadang, pengabdian juga hadir melalui kesediaan untuk duduk bersama, menyapa dengan tulus, dan membangun komunikasi dari hati ke hati.
Bagi Zulfaimar, berada di tengah masyarakat merupakan kebahagiaan tersendiri. Baginya, hubungan yang baik tidak hanya dibangun melalui urusan pekerjaan, tetapi juga melalui pertemuan sederhana yang membuka ruang bagi tumbuhnya rasa saling mengenal dan saling menghargai.
“Dengan canda tawa dan sedikit diskusi ringan, dapat kita manfaatkan untuk menjalin silaturahmi dan ukhuwah Islamiyah dalam kehidupan bermasyarakat,” ungkap Zulfaimar dengan senyuman khasnya.
Pernyataan itu sederhana, tetapi menyimpan pesan yang mendalam. Bahwa silaturahmi tidak harus menunggu acara besar. Tidak pula selalu membutuhkan tempat yang mewah atau pertemuan yang dirancang secara resmi. Secangkir kopi di warung warga pun dapat menjadi jembatan yang mempertemukan hati, mempererat persaudaraan, dan menumbuhkan rasa kebersamaan.
Nilai-nilai seperti inilah yang sesungguhnya sejalan dengan semangat MTQ. Al-Qur’an tidak hanya dilantunkan dengan suara yang merdu, tetapi juga diharapkan menjadi pedoman dalam membangun akhlak, menjaga persaudaraan, serta menghadirkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika ayat-ayat suci Al-Qur’an bergema di arena MTQ, semangatnya diharapkan turut hidup di tengah masyarakat. Bukan hanya dalam bentuk lantunan ayat, melainkan juga melalui sikap saling menghormati, kepedulian, keramahan, dan kesediaan untuk berbagi kebahagiaan dengan sesama.
Pagi di Gunung Sahilan pun memberikan pelajaran berharga. Bahwa di balik kesibukan menyukseskan sebuah perhelatan tingkat kabupaten, terdapat hal-hal sederhana yang tidak kalah penting: senyuman yang tulus, sapaan yang hangat, dan waktu yang diluangkan untuk mendengarkan orang lain.
Sebab, keberhasilan MTQ bukan hanya tercermin dari lancarnya perlombaan, tetapi juga dari semakin eratnya hubungan antara panitia, pemerintah, dan masyarakat.
Dari secangkir kopi di warung sederhana, tersirat pesan bahwa ukhuwah Islamiyah tumbuh ketika setiap orang bersedia membuka ruang bagi kebersamaan. Dan dari Gunung Sahilan, semangat itu menjadi bagian dari cerita MTQ ke-55 Kabupaten Kampar tahun 2026.
MTQ bukan sekadar perhelatan untuk mencari yang terbaik dalam melantunkan ayat-ayat suci, tetapi juga momentum untuk menumbuhkan kebaikan, merawat persaudaraan, dan menghadirkan Al-Qur’an dalam kehidupan masyarakat.
Penulis: Adi Jondri Putra














