Sengkilo, pelitamedia.com – Senja memayungi langit Desa Sengkilo, Kecamatan Kelayang, Kabupaten Indragiri Hulu. Cahaya jingga memantul di permukaan Sungai Kuantan yang mengalir tenang di depan rumah-rumah warga. Di desa itu, tradisi “mangocau” masih hidup di tengah anak-anak muda.
Mangocau adalah cara menangkap ikan dengan tangan kosong di sungai. Bukan sekadar mencari ikan, tetapi juga mengandalkan kepekaan rasa, kelincahan tangan, dan keberanian meraba dasar air yang keruh. Mata tak selalu mampu melihat ikan yang bersembunyi di sela batu atau akar kayu, namun tangan yang terlatih dapat mengenal geraknya.
Bagi sebagian pemuda Desa Sengkilo, mangocau bukan hanya tradisi lama, melainkan juga hiburan yang menghadirkan kebersamaan. Air sungai yang dingin memberi ketenangan, sementara suara alam menghadirkan rasa syukur kepada Sang Pencipta.
Sore itu, Arif bersama dua saudaranya, Syukri dan Redo, bersiap turun ke Sungai Kuantan. Mereka membawa ember kecil dan lampu senter seadanya. Di belakang mereka, tampak seorang anak kecil berlari-lari kecil sambil tersenyum riang. Ia adalah Ahmad Daniyal Akram, kamanakan Arif yang sejak tadi begitu antusias ingin melihat pamannya mangocau.
“Paman, nanti kalau dapat ikan besar, Daniyal mau lihat dulu ya!” katanya polos.
Arif tertawa sambil mengusap kepala keponakannya itu.
“Kalau Daniyal rajin ikut ke sungai, nanti diajarin mangocau.”
Mata Daniyal langsung berbinar. Baginya, melihat pamannya turun ke sungai sudah menjadi hiburan yang sangat menyenangkan. Ia duduk di atas batu pinggir sungai sambil memperhatikan gerakan tangan Arif dan saudara-saudaranya yang sibuk meraba dasar sungai.
“Kalau dapat ikan baung besar, malam ini gulainya pasti mantap,” ujar Redo sambil tersenyum lebar.
Syukri tertawa kecil. “Yang penting jangan pulang tangan kosong. Kak Sri Hasni baru pulang dari rantau, kasihan kalau cuma makan telur.”
Mendengar itu, Arif mempercepat langkahnya. Ia tahu, kepulangan kakak perempuan mereka setelah bertahun-tahun bekerja di Bangkinang menjadi kebahagiaan besar bagi keluarga. Sejak siang, ibu mereka, Khadijah, sudah menyiapkan bumbu gulai di dapur. Aroma serai dan kunyit bahkan masih terasa hingga ke halaman rumah.
Sebelum berangkat, ayah dan ibu mereka sempat berpesan agar berhati-hati di sungai. Doa orang tua itu membuat langkah mereka terasa lebih ringan.
Air Sungai Kuantan sore itu cukup dingin. Ketiganya mulai menyusuri tepian sungai, meraba lubang-lubang kecil di bawah akar pohon. Sesekali terdengar suara cipratan air ketika salah seorang gagal menangkap ikan.
“Aku dapat!” teriak Syukri sambil mengangkat seekor ikan selais sebesar telapak tangan.
“Wahh… besar sekali!” seru Daniyal dari pinggir sungai sambil bertepuk tangan kegirangan.
Redo tak mau kalah. Ia menyelam sebentar, lalu muncul sambil tertawa membawa dua ekor ikan kecil. Arif yang paling tenang terus meraba di sela batu besar hingga akhirnya berhasil menangkap seekor ikan baung yang cukup besar.
“Alhamdulillah… cukup untuk makan malam,” ucap Arif sambil tersenyum.
Daniyal berlari kecil menghampiri ember berisi ikan. Wajahnya tampak kagum melihat hasil tangkapan pamannya. Meski bajunya sedikit basah terkena percikan air, ia tetap tersenyum bahagia.
Matahari mulai tenggelam ketika mereka memutuskan pulang. Ember yang tadi kosong kini berisi beberapa ekor ikan hasil usaha mereka bersama. Walau tidak banyak, wajah mereka penuh kepuasan.
Dari kejauhan terlihat lampu rumah mulai menyala. Khadijah berdiri di depan pintu sambil menunggu anak-anaknya pulang. Saat melihat hasil tangkapan mereka, wajahnya berseri-seri.
“Malam ini kita makan bersama,” katanya lembut.
Di dapur sederhana itu, aroma gulai ikan segera memenuhi ruangan. Kak Sri Hasni yang baru pulang dari rantau tersenyum haru melihat adik-adiknya bercanda sambil membersihkan ikan, sementara Daniyal sibuk bercerita tentang kehebatan pamannya menangkap ikan di sungai.
Baginya, kebahagiaan ternyata bukan tentang kemewahan kota, melainkan kehangatan keluarga dan tradisi kampung yang masih terjaga.
Malam itu, di tengah suara jangkrik dan aliran Sungai Kuantan, keluarga kecil itu menikmati makan malam dengan penuh syukur. Tradisi mangocau bukan hanya tentang menangkap ikan, tetapi juga tentang merawat kebersamaan, cinta keluarga, dan kenangan yang akan selalu hidup di hati mereka.
Penulis : Adi jondri














