Menu ✖

Mode Gelap
Pemkab Kampar Dorong Perlindungan Hak Cipta Motif Batik Khas Kampar Di Hadapan 700 Penerima Beasiswa BPDP, Syahrul Aidi Ungkap 3 Kapasitas Penting agar Sukses Hendry Munief: Konektivitas Antarpulau Jadi Isu Penting dalam RUU Daerah Kepulauan DPRD dan Pemkab Kampar Setujui Bersama Ranperda Perubahan APBD 2026 Dorong Festival Kampung Patin Masuk Karisma Event Nusantara, Hendry Munief Langsung Video Call Menteri Pariwisata Hendry Munief Dukung Pembentukan Politeknik Teknologi Modern (PTM) Indonesia, Harapkan Jawab Kebutuhan Industri Riau

Advertorial

KETIKA JAM WAKTU SHALAT ITU BERJALAN MUNDUR

badge-check


					KETIKA JAM WAKTU SHALAT ITU BERJALAN MUNDUR Perbesar

Oleh: Erman Gani (Dosen Hukun Keluarga Islam UIN Suska Riau)

Subuh itu seperti biasa. Setelah azan berkumandang, jamaah yang hadir melaksanakan shalat sunnah fajar, dua rakaat yang disebut Nabi SAW lebih mahal daripada dunia dan seisinya.

Namun pagi itu ada sesuatu yang menarik perhatian. Jam waktu shalat bergerak mundur, perlahan menuju titik nol. Sungguh banyak yang tidak menyadarinya.

Hingga akhirnya, ketika waktu menuju batasnya, terdengar seruan iqamah, tanda bahwa shalat fardhu Subuh segera didirikan.

Tiba-tiba hati tersentak.

Bukankah demikian pula umur manusia?

Hari demi hari, usia kita sesungguhnya bukan sedang bertambah, tetapi sedang berkurang.

Setiap detik yang berlalu membawa kita semakin dekat kepada titik nol, saat kehidupan dunia berakhir dan kita kembali menghadap Allah SWT.

Hal yang membuat kita sering terlena adalah kita tidak pernah tahu berapa lama lagi angka itu akan bergerak.

Mungkin masih bertahun-tahun. Mungkin tinggal berbulan-bulan.

Mungkin hanya beberapa hari. Atau mungkin hanya sampai azan berikutnya.

Karena itu, jangan menunggu tua untuk menjadi baik. Jangan menunggu lapang untuk bersedekah. Jangan menunggu sakit untuk mengingat Allah. Dan jangan menunggu ajal datang untuk bertaubat.

Rasulullah SAW mengingatkan agar kita memperbanyak mengingat sesuatu yang memutus segala kenikmatan, yaitu kematian.

Maka, hiduplah dengan kesadaran bahwa waktu kita sedang berjalan mundur. Setiap Subuh adalah satu langkah menuju akhir perjalanan.

Setiap matahari terbenam adalah satu lembar usia yang telah ditutup.

Berbuat baiklah seolah-olah esok kita tidak lagi diberi kesempatan. Beribadahlah seolah-olah malam ini adalah malam terakhir. Maafkanlah sebelum terlambat, bersedekahlah sebelum tak lagi memiliki, dan bertaubatlah sebelum pintu itu tertutup.

Sebab yang paling menakutkan bukanlah ketika jam mencapai titik nol.

Yang paling menakutkan adalah ketika jam telah berhenti, tetapi amal kita belum cukup untuk menghadap-Nya

Waalahu A’lam.

Baca Lainnya

Pemkab Kampar Dorong Perlindungan Hak Cipta Motif Batik Khas Kampar

2 Oktober 2026 - 14:41 WIB

Di Hadapan 700 Penerima Beasiswa BPDP, Syahrul Aidi Ungkap 3 Kapasitas Penting agar Sukses

2 Oktober 2026 - 11:19 WIB

DPRD dan Pemkab Kampar Setujui Bersama Ranperda Perubahan APBD 2026

28 September 2026 - 20:29 WIB

Hendry Munief Dukung Pembentukan Politeknik Teknologi Modern (PTM) Indonesia, Harapkan Jawab Kebutuhan Industri Riau

27 September 2026 - 16:25 WIB

Warga Berikan Apresiasi Tinggi, Terobosan Kapolres Kampar Penuh Makna

27 September 2026 - 11:26 WIB

Trending di Daerah