Bangkinang Kota, pelitamedia. Com— Pagi itu, Kamis, 24 September 2026, suasana Aula SMAN 2 Bangkinang Kota terasa hangat dan penuh harapan. Ruangan yang bersih, rapi dan tertata dengan baik tersebut menjadi tempat berkumpulnya para penggerak literasi Kabupaten Kampar yang datang dengan semangat yang sama: menghidupkan budaya membaca dan menumbuhkan masyarakat yang cerdas, kritis serta gemar berkarya.
Sekitar 25 orang penggerak literasi Kabupaten Kampar mengikuti Pembinaan Komunitas Penggerak Literasi di Kabupaten Kampar yang dilaksanakan oleh Balai Bahasa Provinsi Riau. Kegiatan tersebut menjadi ruang bertemunya gagasan, pengalaman dan semangat untuk memperkuat gerakan literasi di tengah masyarakat.
Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau, Dr. Umi Kulsum, M.Hum., berharap para penggiat literasi di Kabupaten Kampar dapat terus eksis dan hadir di tengah kehidupan masyarakat. Menurutnya, gerakan literasi memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan masyarakat untuk membaca, belajar dan mengembangkan wawasan.
Semangat tersebut, kata Umi Kulsum, perlu dimulai sejak lingkungan keluarga. Salah satu gerakan sederhana yang dapat dilakukan adalah membiasakan orang tua membacakan buku kepada anak-anak sejak usia dini, khususnya sekitar usia lima tahun.
Buku dongeng, misalnya, dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan dunia membaca kepada anak. Kebiasaan sederhana ketika orang tua meluangkan waktu membacakan cerita sebelum tidur bukan hanya menumbuhkan kecintaan terhadap buku, tetapi juga dapat menjadi sarana membangun kedekatan emosional antara orang tua dan anak.
Di situlah sesungguhnya gerakan literasi menemukan maknanya. Literasi bukan semata-mata aktivitas membuka dan membaca halaman demi halaman buku, tetapi proses panjang dalam membangun manusia yang memiliki wawasan, daya pikir dan kemampuan memahami kehidupan.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Kampar, Ir. Kholida, M.M., menegaskan bahwa gerakan literasi tidak boleh dipahami sebatas kegiatan membaca.
Menurutnya, literasi harus mampu melahirkan masyarakat yang berpikir kritis, mampu menghasilkan karya serta mengambil peran dalam pembangunan. Dengan demikian, budaya literasi dapat menjadi salah satu kekuatan dalam mewujudkan pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kholida berharap pembinaan komunitas penggerak literasi di Kabupaten Kampar mampu melahirkan komunitas yang aktif, kreatif dan inovatif. Komunitas literasi diharapkan tidak hanya bergerak ketika ada kegiatan, tetapi mampu hadir secara berkelanjutan di tengah masyarakat.
Sebab, membangun budaya literasi bukan pekerjaan sehari atau dua hari. Ia membutuhkan ketekunan, keteladanan dan gerakan bersama. Dari sebuah buku yang dibaca seorang anak, bisa tumbuh sebuah cita-cita. Dari sebuah cerita yang didengarkan, dapat lahir imajinasi. Dari kebiasaan membaca, perlahan tumbuh kemampuan berpikir dan keberanian untuk berkarya.
Pagi di Aula SMAN 2 Bangkinang Kota itu akhirnya bukan sekadar menjadi ruang pembinaan. Ia menjadi simbol bahwa harapan terhadap masa depan Kampar dapat dimulai dari hal-hal sederhana: sebuah buku, seorang anak, orang tua yang mau membacakan cerita, serta para penggerak yang dengan tulus memilih untuk menyalakan cahaya literasi di tengah masyarakat.
Ketika membaca telah menjadi budaya, pengetahuan akan tumbuh. Ketika pengetahuan tumbuh, masyarakat akan semakin mampu berpikir kritis. Dan ketika masyarakat mampu berpikir, berkarya serta bergerak bersama, pembangunan dan kesejahteraan bukan lagi sekadar harapan, tetapi menjadi cita-cita yang terus diperjuangkan.
Ditulis Oleh: Adi Jondri Putra (Pengelola TBM Alya Cerdas)














