Oleh: Zamhur, ST, MM (Kepala Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Kampar)
Di usia 76 tahun, sebuah daerah seperti halnya manusia, seharusnya telah melewati fase pencarian jati diri. Usia ini adalah masa kematangan. Masa ketika pertanyaan bukan lagi “siapa kita”, melainkan “apa yang akan kita wariskan”.
Saat angka 76 bertebaran di spanduk dan baliho di seluruh penjuru Kabupaten Kampar, rasa bangga tentu membuncah. Namun bagi saya, kebanggaan itu hadir berdampingan dengan perenungan yang dalam. Sebagai orang yang diamanahkan mengurus dapur pendapatan daerah di Badan Pendapatan Daerah (Bapenda), Kampar tidak pernah saya pandang sekadar sebagai wilayah administratif di atas peta Riau.
Bagi saya, Kampar adalah rumah. Rumah besar tempat ratusan ribu jiwa bernaung dan menggantungkan harapan. Maka pertanyaannya menjadi sangat sederhana: bagaimana kabar rumah kita hari ini?
Apakah tiangnya kokoh karena kita rawat bersama, atau ia masih berdiri tegak karena disangga oleh bantuan dari luar?
Refleksi inilah yang paling kuat saya rasakan di ulang tahun ke-76 Kabupaten Kampar sebuah refleksi tentang kemandirian.
Harus kita akui dengan jujur, selama puluhan tahun, pembiayaan rumah tangga daerah kita masih sangat bergantung pada dana transfer dari pemerintah pusat. Itu bukanlah kesalahan. Itu adalah hak daerah. Namun, ketergantungan yang berlarut-larut bukanlah mentalitas pemenang.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, daerah yang bermartabat adalah daerah yang mampu menghidupi dirinya sendiri. Daerah yang otot finansialnya kuat karena digerakkan oleh keringat, partisipasi, dan kesadaran warganya sendiri. Di titik inilah Pendapatan Asli Daerah (PAD) menemukan maknanya yang paling hakiki.
Sayangnya, pajak daerah dan retribusi masih kerap dipandang dengan kacamata yang dingin dan transaksional. Ia dianggap beban. Ia dicurigai sebagai pungutan semata. Padahal, jika kita mau duduk sejenak dan merenung, pajak adalah manifestasi cinta paling nyata kepada tanah kelahiran.
Ketika seseorang membayar pajak restoran seusai makan bersama keluarga, sejatinya ia sedang menabung untuk jalan yang dilaluinya saat pulang. Ketika membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), ia tidak sedang menyetor upeti, melainkan sedang bergotong royong dengan seluruh warga kabupaten agar lampu jalan tetap menyala dan puskesmas memiliki obat yang layak.
Inilah gotong royong dalam wajah modern. Inilah cara kita merawat Rumah Kita.
Saya menyadari sepenuhnya, membangun kesadaran semacam ini bukanlah perkara mudah. Kepercayaan publik adalah mata uang paling mahal. Masyarakat tidak akan mau berkontribusi jika mereka merasa rumahnya tidak diurus dengan baik.
Karena itu, pada momentum 76 tahun Kabupaten Kampar ini, izinkan saya menegaskan: Bapenda Kabupaten Kampar tidak sekadar bertugas menagih. Tugas utama kami adalah melayani dan menjaga amanah. Kami terus berbenah melalui digitalisasi, bukan untuk terlihat canggih, tetapi untuk memuliakan warga agar tidak perlu antre berjam-jam hanya untuk menunaikan kewajibannya. Transparansi adalah komitmen kami, agar setiap rupiah yang masuk ke kas daerah dapat dipertanggungjawabkan kembali kepada masyarakat.
Kampar dikenal sebagai Negeri Serambi Mekkah. Dalam ajaran agama, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Filosofi ini seharusnya hidup dalam tata kelola pemerintahan kita. Kemandirian fiskal daerah adalah wujud tangan di atas kita di hadapan sejarah.
Kepada seluruh masyarakat Kampar—para pengusaha, petani, pedagang, dan profesional saya sampaikan terima kasih yang tulus. Kontribusi Anda, sekecil apa pun, adalah semen dan batu bata yang memperkokoh dinding rumah besar bernama Kampar.
Mari kita rayakan usia 76 tahun ini dengan tekad baru: tekad untuk lebih mandiri.
Jangan biarkan Kampar tua di angka, tetapi rapuh di kaki. Mari kita rawat rumah ini bersama-sama, agar kelak anak cucu kita mewarisi sebuah istana yang berdaulat, bukan rumah yang tergadai.
Dirgahayu Kabupaten Kampar ke-76.
Rumah kita, tanggung jawab kita, kebanggaan kita.
Tali bapilin tigo, soko bagantuang tinggi.
Basamo kito mambangun nagoghi,
dari pajak untuk kemandirian diri.














