SIBERUANG, pelitamedia.Com – Bupati Kampar, H. Ahmad Yuzar, S.Sos., M.T., mengajak masyarakat untuk menjaga adat dan tradisi leluhur, melestarikan lingkungan, serta memperkuat semangat gotong royong melalui tradisi pembukaan Ikan Antau Lubuk Larangan di Tepian Sungai Kampar, Desa Siberuang, Kecamatan Koto Kampar Hulu, Kabupaten Kampar, Sabtu (17/10/2026).
Tradisi yang diikuti ribuan masyarakat tersebut menjadi salah satu bentuk kearifan lokal yang menggabungkan nilai adat, kebersamaan, dan kepedulian terhadap kelestarian ekosistem sungai.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan Surah Yasin, zikir, dan doa bersama, dilanjutkan sambutan pucuk adat serta pidato Bupati Kampar. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan pembukaan Lubuk Larangan melalui prosesi campak jala pertama oleh Bupati Ahmad Yuzar, didampingi Sekretaris Daerah Kabupaten Kampar, Dr. Ardi Mardiansyah, S.STP., M.Si., tokoh masyarakat Riau Diski, camat, dan ninik mamak. Prosesi tersebut kemudian diikuti masyarakat yang hadir.
Tradisi Adat yang Menyatukan Masyarakat
Dalam sambutannya, Ahmad Yuzar menyampaikan apresiasi kepada ninik mamak, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan seluruh warga Desa Siberuang yang terus menjaga tradisi Ikan Antau Lubuk Larangan.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi ajang menangkap ikan secara bersama-sama, tetapi juga mencerminkan nilai kesabaran, kebersamaan, silaturahmi, kepatuhan terhadap kesepakatan adat, serta tanggung jawab dalam menjaga alam.
“Tradisi Ikan Antau Lubuk Larangan ini merupakan kekayaan adat dan budaya yang harus kita jaga bersama. Di dalamnya terkandung nilai gotong royong, silaturahmi, dan kepedulian terhadap lingkungan. Inilah warisan para ninik mamak terdahulu yang harus kita pertahankan agar tidak terkikis oleh perkembangan zaman, sehingga pada hari ini dapat menerima manfaat dengan panen ikan di Lubuk Larangan ini,” ujar Ahmad Yuzar.
Ia menilai, keberlangsungan tradisi tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai adat masih memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat, terutama dalam membangun kebersamaan dan menjaga sumber daya alam agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Jaga Ekosistem Sungai untuk Generasi Mendatang
Bupati Kampar juga menegaskan bahwa pengelolaan Lubuk Larangan merupakan salah satu upaya masyarakat dalam menjaga ekosistem sungai dan kelestarian populasi ikan.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama melindungi Sungai Kampar dari praktik penangkapan ikan yang merusak lingkungan, seperti penggunaan racun maupun penyetruman ikan.
Menurutnya, pelestarian sungai membutuhkan kesadaran dan komitmen seluruh pihak. Sumber daya alam yang dijaga dengan baik tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat saat ini, tetapi juga menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang.
Ahmad Yuzar berharap masyarakat terus mematuhi ketentuan adat dalam pengelolaan Lubuk Larangan, sehingga keseimbangan lingkungan tetap terjaga dan manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.
“Dengan menjaga alam hari ini, kita memastikan anak cucu kita kelak tetap dapat menikmati kekayaan sungai yang lestari,” menjadi pesan penting dalam upaya pelestarian lingkungan melalui tradisi tersebut.
Berpotensi Dikembangkan sebagai Wisata Budaya
Selain memiliki nilai adat dan lingkungan, Bupati Kampar berharap tradisi Ikan Antau Lubuk Larangan di Desa Siberuang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata berbasis budaya dan lingkungan.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat masuk dalam kalender pariwisata Kabupaten Kampar hingga Provinsi Riau, sehingga semakin dikenal luas dan mampu memperkenalkan kekayaan adat masyarakat Kampar kepada wisatawan.
Pengembangan wisata berbasis kearifan lokal diharapkan dapat membuka peluang ekonomi masyarakat, mendorong aktivitas usaha lokal, serta memperkuat identitas budaya daerah. Namun, pengembangannya tetap perlu mengutamakan kelestarian sungai dan penghormatan terhadap ketentuan adat yang berlaku.
“Mari kita jaga adat, lestarikan sungai, dan wariskan alam yang baik untuk anak cucu kita. Pemerintah Kabupaten Kampar mendukung upaya pelestarian tradisi yang memberikan manfaat bagi masyarakat, menjaga lingkungan, serta memperkuat identitas budaya daerah,” tutupnya.
Dihadiri Ribuan Masyarakat
Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua TP PKK Kabupaten Kampar, Tengku Nurheryani Ahmad Yuzar, S.Sos.; Sekretaris Daerah Kabupaten Kampar, Dr. Ardi Mardiansyah, S.STP., M.Si.; sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) terkait; tokoh masyarakat Riau asal Koto Kampar Hulu, Diski; Camat Koto Kampar Hulu, Ahmad Begab; Kepala Desa Siberuang, Doni Chandra; serta para kepala desa se-Kecamatan Koto Kampar Hulu.
Hadir pula Kepala Puskesmas Koto Kampar Hulu, Ketua TP PKK kecamatan dan desa, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, serta ribuan warga yang memadati tepian Sungai Kampar untuk mengikuti tradisi tersebut.
Antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa Lubuk Larangan masih menjadi bagian penting dari kehidupan sosial dan budaya warga setempat.
Melalui tradisi ini, masyarakat Desa Siberuang memperlihatkan bahwa kearifan lokal bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan pedoman untuk memperkuat persatuan, menjaga keseimbangan alam, dan membangun kepedulian terhadap lingkungan.
Pelestarian Lubuk Larangan diharapkan terus menjadi gerakan bersama agar adat tetap hidup, sungai tetap terjaga, dan kekayaan alam Kampar dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Jaga adat, lestarikan sungai, wariskan untuk anak cucu.
(PelitaMedia.com)














